Wednesday, September 20, 2017

[Chit-Chat] Curcol Emak: Menyusui Arya


Salah satu tugas berat yang menanti para ibu setelah melahirkan adalah menyusui bayinya. Ah, masa sih sulit? Bukannya tinggal buka baju dan lepas beha trus sodorin payudaranya ke si bayi? Gampang gituh masa dibilang sulit. Eits, jangan salah. Meski terlihat sederhana, menyusui juga harus pakai ilmu, lho.


Banyak ibu muda, terutama yang baru punya anak, gagal memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Salah satu penyebabnya adalah ketidakyakinan si ibu bahwa dia bisa menyusui, atau bahwa ASI-nya cukup untuk si bayi. Kalo dari pengamatan dan pengalamanku, penyebab ketidakyakinan ini justru datang dari lingkungan terdekat si ibu. Contohnya, suami, kakek-nenek si bayi, om-tante, tetangga, dan sebagainya.


Pengalamanku menyusui Arya dan Fidel cukup berbeda. Arya gagal ASI eksklusif karena di 10 hari pertama kehidupannya dia minum sufor pakai dot. Penyebabnya? Karena aku MERASA ASI-ku belum keluar sehingga bikin mamaku berinisiatif ngasih sufor ke dia. Mamaku takut bayiku dehidrasi kalo nggak disusui, yang akhirnya bikin aku ketakutan setengah mati. Akhirnya, meski dengan berat hati, aku merelakan Arya mimik sufor sementara menunggu ASI-ku lancar. Tapi, tunggu punya tunggu, ASI-ku nggak keluar-keluar. Yang ada malah macet total. Payudaraku bengkak gara-gara ASI-nya ketahan. Rasanya? Jangan ditanya, deh. Semriwinggg.




Untuk melancarkan ASI, si Papa sampai beliin aku susu menyusui dan vitamin pelancar ASI. Mamaku bikinin air rebusan kacang ijo yang rasanya ewwwh, nggak banget, dan itu harus kuminum tiap hari. Trus, aku juga ngedatengin bidan yang juga konselor laktasi untuk menanyakan gimana caranya supaya ASI-ku lancar. Sama bidan itu, payudaraku diperiksa. Dia bilang ASI-ku ada cuman lubangnya masih belum kebuka semua, makanya macet. Supaya kebuka semua, ya harus disedot sama bayinya.


Beberapa hari kemudian, ASI-ku memang sudah mulai ngalir, tapi aku menghadapi masalah baru lagi: Arya bingung puting. Ada yang belum tau bingung puting? Langsung googling ya, Dear :D Jadi, karena bingung putingnya ini, Arya emoh kalo disodorin payudara karena sudah keenakan pakai dot. Kalo disuruh nenen, dia nangis kejer sambil ngejauhin kepalanya dari payudaraku. Duh, rasanya kayak cintaku ditolak sama cowok kecenganku. Pedih, Jendral! #bukancurcol :p


Image result for broken heart
My heart falling to pieces :'(
Aku tetap bertekad menyusui Arya, tapi karena bingung putingnya itu, dia jadi nangis terus nyari dotnya. Mamaku mulai rewel bilang ASI-ku nggak cukup, si Papa nggak tahu harus gimana karena ini juga anak pertamanya, jadi sama bingungnya kayak aku. Tiap malam kita begadang buat gantian nenangin si bayi yang nangis terus. Si Papa mulai senewen, mamaku tambah rewel, aku? Kena baby blues dooong, jadi bawaannya mau nangis terus. Apalagi kalau denger omongan ASI-ku nggak cukup, bayinya nggak mau nenen, ntar bayinya kekurangan gizi. Duuuh, serasa mau kiamat aja ini dunia.

Tapi, aku nggak nyerah. Di antara mood swing yang kurasakan, aku nyari-nyari info di grup menyusui di FB. Semua nyaranin untuk lepas dot dan susui langsung bayinya. Kalo bayinya masih nolak, kasih ASI pakai media selain dot, seperti sendok, spuit, pipet, apa aja asal jangan dot. Nah, karena aku punyanya cuman sendok, akhirnya Arya aku suapin susu pakai sendok kecil. Setelah beberapa suap, dia nangis kejer, trus nolak. Nah, karena dia nggak mau lagi, kusodorinlah payudaraku. Eh, dia mau! Walaupun tetep sambil nangis, seenggaknya dia mau nenen langsung.


Apakah masalah sudah selesai? Ternyata belum, sodara-sodara. Setelah Arya mau nenen langsung, nggak lama kemudian aku mengalami blister atau lecet di payudara. Ini disebabkan oleh pelekatan yang nggak sempurna. Ya, maklumlah, namanya juga ibu baru. Aku beneran nggak ngerti kalo menyusui itu ada yang namanya pelekatan atau latch on. Lecet di payudara bikin acara menyusui bagaikan neraka. Sakit banget, sumpah! Aku nggak tahu harus gimana. Kalo disusuin, rasanya sakit banget, tapi kalo nggak disusuin juga jadinya payudara bengkak dan nyeri. Serba salah.


Terus, aku juga kesulitan menyesuaikan posisi saat menyusui. Pada awalnya, aku menyusui dengan posisi duduk yang mana amat sangat menyiksa. Pinggang jadi nyeri, leher juga jadi pegel karena nunduk terus. Aku cuman tahan menyusui selama lima menitan. Habis itu acara nenennya kustop walaupun Arya masih kepengen. Nggak tega juga sebenernya, tapi aku beneran nggak tahan. Belum lagi aku harus berjibaku dengan baby blues-ku.

posisi_dasar_menyusui_Bundanet
Posisi dasar menyusui


Image result for pelekatan
Posisi menyusui yang benar
Aku sudah bilang kan tadi ya kalo baby blues bikin aku mau nangis terus. Perasaanku sensitif banget, nggak bisa dikritik dikit langsung pengen nangis kejer. Selain itu, kalo liat bayiku, aku ketakutan. Kalo dia tidur, aku takut dia bangun. Pinginnya dia tidur terus aja, jadi aku nggak perlu nyusuin. Tapi, itu jelas nggak mungkin. Masa bayi nggak disusuin, bisa kelaperan dia. Akhirnya, dengan tekad yang dikuat-kuatin, aku tetap menyusui Arya minimal tiap dua jam sekali. Sakit, perih, nyeri, ditahan sebisa mungkin. Sambil nangis juga nggak papa deh asal si bayi nenen dan anteng. Mood swing juga sebisa mungkin dikendalikan, meskipun lebih sering gagalnya daripada berhasilnya.

Image result for pelekatan
Pelekatan
Keadaan ini bertahan sampai umur Arya ± 1,5 bulan. Begitu ASI lancar, Arya sudah bisa melekat dengan benar, dan lecet di payudaraku sembuh, baby blues pun mereda. Aku juga sudah menemukan posisi menyusui favoritku, yaitu sambil berbaring. Dengan posisi ini, aku jadi rileks. Arya juga Aku mulai bisa menikmati peran baruku sebagai ibu. Meski capek setengah mati, tapi punya bayi itu memang pengalaman yang seru banget. Unforgettable.

Kenapa aku bisa mengalami hal-hal di atas? Apa karena kurang informasi? Sebenarnya, malah sebaliknya, sejak hamil, aku sudah menjejali kepalaku dengan teori per-ASI-an. Aku tahu rata-rata ASI mulai lancar di hari ketiga setelah melahirkan. Bahwa sebelum ASI putih ngalir, yang keluar duluan adalah ASI bening keemasan yang disebut kolostrum. Kolostrum ini ngalirnya emang dikit-dikit karena menyesuaikan lambung bayi baru lahir yang hanya sebesar kelereng. Tapi, walaupun dikit, manfaatnya luar biasa dahsyat. Makanya, sebisa mungkin harus disusukan ke bayi.

Image result for ukuran lambung bayi
Ukuran perut bayi baru lahir
Aku tahu kalau semakin sering disedot bayi, ASI akan semakin melimpah, karena prinsip ASI adalah supply by demand. Aku tahu pelancar ASI terbaik adalah hisapan mulut bayi itu sendiri. Bahwa ASI pasti bisa mencukupi kebutuhan bayi sehingga dia nggak perlu konsumsi apa-apa lagi selama enam bulan awal kehidupannya (ASI Eksklusif). Ya, aku sudah tahu semua info itu, tapi begitu berhadapan dengan si bayi, semua ilmu itu hilang entah ke mana. Penyebabnya? Seperti yang kubilang di atas tadi, ketidakyakinan yang timbul karena omongan orang-orang di sekitar si ibu. Dalam kasusku, mamaku adalah penyebabnya. Bukannya menyalahkan, karena sebagai nenek, wajar beliau mengkhawatirkan kondisi cucunya. Tapi, di sinilah aku melihat bahwa edukASI itu penting, bukan saja buat diri kita sendiri, tapi juga lingkungan sekitar kita, terutama suami. Karena, seringnya ibu baru gagal ngASI justru disebabkan oleh kurangnya dukungan dari lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, aku juga salah karena tidak membagi info yang selama ini aku pelajari kepada anggota keluargaku. Padahal mereka adalah salah satu faktor utama suksesnya proses menyusui.

Dan satu lagi pelajaran berharga lainnya yang kudapatkan. Dot adalah MUSUH BESAR bagi ibu yang berniat ngASI eksklusif. Jadi, buang jauh-jauh dotnya!



To be continued...

10 comments:

  1. oh ada ya istilah bingung puting, hihi, baru tau. selamat bertumbuh kembang ya Arya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, bingung puting itu horor buat para busui :'(

      Makasih :)

      Delete
  2. Dukungan dari orang2 sekitar memang sangat dibutuhkan ibu menyusui ya. Tetap semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, terutama dukungan dari suami.

      Makasih :)

      Delete
  3. wah aku juga pas awal-awal menyusui sempat gitu. takut kalau bayi bangun karena waktu itu belum bisa nyusuinnya dengan benar. sempat lecet-lecet juga pas menyusui. alhamdulillah sekarang sudah terlewati periode itu. tinggal berusaha biar bisa tetap menyusui sampai 2 tahun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Periode awal menyusui memang penuh perjuangan ya. Apalagi pas anak pertama, pake nangis darah supaya lulus ASIX *mulailebay XD

      Delete
  4. Belum jadi ibu atau istri, tapi baca ceritanya jadi haru. Bener ya ternyata menyusui itu menyakitkan dan tidak mudah tapi juga bernilai. Thanks for telling the story

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya nggak sakit kalo pelekatannya benar. Tapi, rata-rata ibu baru biasanya memang kagok pas pertama kali menyusui, makanya jadi kena blister. Kalo pelekatannya sudah oke, menyusui itu benar-benar menyenangkan dan, iya, bernilai banget :D

      The pleasure was mine ^_^

      Delete
  5. Bacanya aja aku stress mba apalagi ngalaminnya.... Semoga ini jadi bbs pertama dan terakhir kita ya, hiks. Aamiin...

    ReplyDelete

COPYRIGHT © 2018 JURNAL GITA | THEME BY RUMAH ES